Es Dawet Jembut Kecabut, Segarnya Bikin Ketagihan

dodiek, 05 May 2020, PDF
Share w.App T.Me
INDONESIASATU.CO.ID:

MALANG - Di pertigaan Wajir, warung berdampingan dengan rumah hunian terlihat menarik perhatian, bukan karena bangunannya, tapi dagangan yang ditawarkan ke pembeli, yaitu es dawet jembut kecabut, selasa (5/5/2020).

Musini (64 tahun), berdomisili di Wagir, sudah lebih 20 tahun hidup menjanda, karena suaminya terlebih dahulu berpulang. 

Musini bukan asli Malang, tapi dari Purworejo, dan selama lebih 20 tahun, ia memenuhi kebutuhan rumah tangganya dengan berjualan. Di masa sulit, ia harus menghidupi 2 anaknya, dan kini ia sudah di karuniai 3 cucu.

Sebelumnya, Musini tak pernah menyangka harus terjun ke dunia wira usaha, namun nasib memaksanya, lantaran tekanan ekonomi sepeninggal suaminya yang dulu berprofesi sopir.

"Saya lahir di Purworejo, besarnya di sana, di sini ikut suami, sekitar tahun 1990an. Dulu tidak jualan, karena suami meninggal, saya harus jualan," jelas Musini.

Berbahan utama tepung sagu, tape ketan, dan gula merah, es dawet jembut kecabut di jual dengan harga murah meriah, yaitu hanya Rp 3.500,- per mangkok.

Ciri khas es dawet ini terletak pada santan yang mendominasi dalam satu mangkok. Tape ketan yang terasa nikmat, dan rasa manis gula merah, menambah sensasi tersendiri.

"Esnya murah, saya pilih es ini, karena di tempat saya, es ini terkenal, sudah biasa di jual di mana-mana, namanya dari dulu ya itu," kata Musini.

Sebelum Ramadhan, warung miliknya mulai buka pagi, dan tutup sore hari. Khusus masa Ramadhan, warung di buka sore hingga malam hari.

Ia berjualan es dawet jembut kecabut bersama menantunya. Tanpa ragu, kata jembut tak jadi masalah saat berjualan, baik dari si penjual maupun pembeli.

Menurut Musini, es dawet tersebut berasal dari tempat kelahirannya, yaitu Purworejo. Nama jembut kecabut berasal dari kata Jembatan Butuh yang disingkat jembut, dan Kecamatan Butuh yang disingkat kecabut.

Selain itu, tepung sagu yang berbentuk mirip rambut atau arahnya ke jembut, juga berdampak pada penamaan es dawet itu. Bentuknya yang kecil dan banyak, mengasumsikan rambut atau jembut yang tercabut.

Di masa pandemi corona, diakui Musini, ada penurunan omset di banding tahun lalu, tetapi penurunan itu tidak terlalu mencolok. Ia tetap bersyukur tetap bisa berjualan, dibanding orang lain yang nasibnya berada dibawahnya.

Mungkin, kuliner es dawet jembut kecabut tidak cocok di jual di daerah tertentu, bukan karena rasa atau harganya, tapi namanya. 

Tiap daerah memiliki kearifan lokal berbeda-beda, dan tidak bisa disama ratakan, termasuk nama-nama kuliner. Kearifan lokal itulah yang membebaskan atau melarang kuliner yang nama-namanya agak kontroversial. (dodik)

PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu