Cikal Bakal New World Order

dodiek, 02 Jun 2020, PDF
Share w.App T.Me
INDONESIASATU.CO.ID:

OPINI - Berawal dari pembentukan pasukan khusus bernama "The Knights of the Temple of King Solomon" atau "Knight Templar" yang diprakarsai bangsawan asal Perancis, Hugues de Payens, dan direstui Raja Baldwin II dari Yerusalem di tahun 1119. 

Tugas pasukan khusus tersebut hanya menjaga teritorial Yerusalem dari berbagai ancaman yang dianggap mengganggu, sedangkan perekrutannya didasari sukarela alias tanpa paksaan, dan mayoritas anggotanya berasal dari keluarga miskin.

Semula, pasukan khusus ini beraktifitas normal, bahkan menarik simpati berbagai kalangan, ujung-ujungnya, di tahun 1129, Konsili Troyes menyampaikan dukungan resminya. 

Dukungan semakin bertambah, ketika Bernardus dari Clairvaux, meresponnya dalam tulisan bertajuk "De Laude Novae Militae", yang menggugah perhatian banyak orang. 10 tahun kemudian atau tepatnya tahun 1139, "Omne Datum Optimum" diterbitkan Paus Innosensius II, sebagai respon dukungan resmi kepada Knight Templar.

Penyimpangan mulai terlihat di tahun 1160an hingga 1170an, anggota pasukan tersebut mulai dimasuki "tentara bayaran", dan mereka dilatih secara militer pada masa itu. Perekrutan tentara bayaran ini tidak lepas dari kepentingan para bangsawan yang mendompleng "jasa" pasukan itu untuk keamanan usahanya.

Knight Templar akhirnya diuji kemampuannya di tahun 1177, dalam Pertempuran Montgisard, melawan pasukan Saladin, dan dari pertempuran inilah, pasukan ini mulai melenceng dari "master plan" pembentukannya. Usai pertempuran itu, latarbelakang anggota Knight Templar tidak lagi seperti awal mula berdirinya, mereka semua adalah tentara bayaran.

Penyimpangan makin terlihat jelas, ketika Raja Louis VII dari Prancis dan Raja Richard I dari Inggris, memanfaatkan kemampuan pasukan tersebut, yang notabene tak ada hubungannya dengan kepentingan keamanan di Yerusalem. 

Tak hanya dimanfaatkan kedua raja tersebut, Knight Templar "diperbantukan" ke medan pertempuran "Reconquista" di Spanyol dan Portugal, yang notabene berada di Eropa barat. 

Paus Benediktus XI menarik dukungannya terhadap Knight Templar, usai ia mengetahui bahwa mereka hanyalah tentara bayaran yang mendompleng dukungan untuk kepentingan dirinya sendiri. Ujungnya, di tahun 1304, Paus Benediktus XI ditemukan meninggal karena diracun, dan diduga, ada hubungan penarikan dukungannya terhadap Knight Templar.

Di tahun 1305, Bertrand de Goth atau Paus Klemens V, bersama Raja Philip IV dari Perancis, mulai melakukan penyelidikan keuangan hingga aktifitas Knight Templar. 

Hasil penyelidikan sangat mengejutkan, ditemukannya patung Baphomet hingga ritual meludahi salib sambil telanjang. Sedangkan hasil penyelidikan keuangan, Knight Templar ternyata memiliki tanah yang luas, dan surat piutang para bangsawan yang memanfaatkan jasanya.

Paus Klemens V mendukung penangkapan seluruh anggota Knight Templar dan memenjarakannya, serta pertobatan massal, tapi berbeda dengan Raja Philip IV, ia malah menjatuhi hukuman mati.

Pada hari Jumat, tanggal 13 Oktober 1307 atau disebut peristiwa horror "Friday The 13th", seluruh anggota Knight Templar dijatuhi hukuman mati, usai Raja Philip IV mengeluarkan perintah disertai tuduhan pengumpulan kekayaan dengan mengatasnamakan agama, dan praktek ajaran sesat. 

Setelah peristiwa Friday The 13th, menyusul terbitnya "Pastoralis Praeeminentiae" oleh Paus Klemens V, yang menyatakan Knight Templar adalah sekte sesat. 

Di tahun 1312, Konsili Vienne menyatakan Knight Templar harus dibubarkan, dan berstatus sekte terlarang. Sebelumnya, Konsili Vienne menduga Knight Templar dimasuki ajaran sesat saat mereka bermarkas di Siprus, atau ketika menjalin kerjasama dengan para bangsawan yang menggunakan jasa keamanan.

Diburu di Perancis, anggota Knight Templar yang lolos dari maut, melarikan diri ke Skotlandia. Bagi Robert de Bruce, Raja Skotlandia, kedatangan Knight Templar adalah "senjata rahasia" untuk melawan Inggris, sepeninggal William Walace, pahlawan Rakyat Skotlandia.

Berbekal pengalaman perang di medan berat dan lawan tangguh, menjadi modal besar Knight Templar bekerjasama dengan Skotlandia dalam pertempuran Bannockburn di tahun 1314. Hasilnya, Skotlandia berhasil mengalahkan Inggris, padahal jumlah pasukan Inggris jauh lebih banyak ketimbang Skotlandia.

Tahun 1603, Ratu Elizabeth I meninggal dunia tanpa menurunkan pewaris tahta, dan sesuai aturan, Raja James V dari Skotlandia menjadi raja Kerajaan Inggris. Pengaruh Knight Templar yang semula hanya berada di Skotlandia, menyebar ke Inggris, usai Skotlandia bergabung dengan Inggris.

Knight Templar bangkit dari kehancuran, dan untuk memuluskan rencananya, Knight Templar harus dimatikan terlebih dahulu, tapi hanya namanya saja yang mati. Nama baru yang dipilih mereka adalah nama yang dikenal banyak orang, tapi hanya dipahami sedikit orang, dan nama baru itu adalah Freemason. (dodik)

PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu